Senin, 27 Januari 2014

Memangnya Penting Ya?

"Beb,maaf ya tadi gak sempet ngabarin kamu. Aku di jalan nih mau ke Sekolah. Doain aja nanti malem gak hujan, jadi kita bisa makan bareng. See you, Beb"

kira-kira begitulah kalimat penutup dari Danu ke pacarnya di telfon


Hari Sabtu tanggal  4 Januari sekitar jam 16.45 WIB gue sedang dalam perjalanan menuju , tujuan gue saat itu adalah ingin bertemu dengan Salsa untuk dinner. Karena kebetulan hari itu adalah hari dia ulang tahun dia, dan Salsa berangkat duluan, sedangkan gue harus ketemu dulu sama Tante dan Om Untuk membahas #Lasttogo pada tanggal 5 besok.

Setelah selesai Ngoceh-ngoceh, gue akhirnya pulang dulu ke Rumah buat ambil mobil lalu berangkat untuk ketemuan sama Salsa. Gue sudah membuat janji dengan Salsa untuk ketemuan di sebuah Caffe Gaul jam 17.00 WIB. Tapi gue gak sendirian berangkat ke , karena Danu, temen gue juga mau ke , dia bilangnya mau ada urusan di sana. Danu adalah tetangga gue satu komplek. Kita berteman sejak tahun pertama Masuk Latian Basket di Gor Sahabat, selain karena Rumah  dia yang berada persis di samping  gue, kita juga sama-sama mengikuti Pelatihan bola basket. Danu adalah contoh anak basket yang digandrungi cewek Sekolah karena punya muka yang kayak orang bule dan dia juga jadi pemain inti tim basket Sekolah. Sejak berteman dengan Danu, gue pun jadi ikutan terkenal.... di kalangan tukang Es Cendol deket lapangan basket Blambangan.

Danu ini punya badan yang tingginya hampir gak beda jauh dari gue, tapi dia lebih pendek sedikit, mungkin sekitar 185cm. Muka dia campuran antara Arab dan Belanda, dia adalah cowok yang paling sering gonta-ganti pacar, dan dia tidak pernah merasakan yang namanya galau setelah putus. Entah ini sebuah prestasi atau sebuah gangguan mental terselubung dari diri Danu yang tidak pernah dia kasih tau ke gue.

 "Wah cewek baru lagi, Dan? Itu yang kemaren udah putus emang?"

 "Ya gitu deh. Udah gue putusin, Sen. Tapi santai, ini baru jadian lagi gue sama yang laen."

 "Gila, lo hebat banget ya. Kayaknya aku butuh dua tahun deh buat bisa move on, kamu cepet banget anjir!!"

 "Ya gue bisa cepet dapet pacar karena emang muka gue kan ganteng, gak kayak elu Sen."

Hening seketika.

 Jam di deket DVD mobil gue sudah menunjukan pukul 16.55 WIB dan mobil gue masih ngisi bensin di SPBU Cungking samping antri lama di depan mobil gue masi banyak antrian. Karena gue takut telat, dan gue juga takut Salsa nunggu kelamaan, gue langsung ambil handphone di saku celana kemudian nelfon dia.

"Halloo. Salsa, kamu udah di ? gue masih Ngisi bensin di SPBU samaping sebentar lagi aku sampe kok. Tungguin yaaaa."

"Iya nih baru sampe, gapapa kok tenang aja. See yaa."

"Bye."

 Kemudian gue tutup telfon, lalu berdoa agar mobil gue bisa cepet keluar dari SPBU dan gue bisa bertemu dengan Salsa sesegera mungkin. Belum sempat gue taruh handphone di saku celana, tiba-tiba Danu dengan santai nanya ke gue, "Datar bener lo nelfonnya? Gak ada romantis-romantis sama sekali ."

 "Emang penting ya ngumbar romantis di telfon?"

"Ya iyalah. Lo gimana mau punya aura orang ganteng di mata cewek-cewek kalo sama pacar sendiri aja datar gitu?"

"Yah, Dan. Namanya juga baru kenalan, masih adaptasi lah. Lagipula gue kan romantisnya gak ditelfon, privasi kaliiii."

"Emang lo ngapain aja kalo sama dia? Paling pegangan tangan doang kan?"

"Lah kok tau?"

"Hahahaha cupu banget lo cuma pegangan tangan. Kalo gue gak usah ada status pacaran juga bisa pegangan tangan."

"Gue juga gitu, sering malah... Sama Bunda gue."

"Bener-bener cupu ya ni anak. Oh gue tau, romantisnya elo kan paling mau disuruh bawain belanjaan dia aja ya? Hahahahahaha."

"Eh, Dan Liat deh di awan ada kangguru lagi main petak umpet!!" Buru-buru gue mengalihkan obrolan gue dengan Danu, karena gue udah tau banget watak dia yang selalu nge-bully kisah asmara hidup gue.

 Akhirnya mobil gue bisa juga keluar dari SPBU, dan gue pun langsung menuju untuk mencari parkiran. Setelah memarkir mobil di dekat pintu masuk, gue pun mengambil botol parfume di jok belakang, kemudian sedikit menyemportkan ke badan gue. Karena gue gak mau bikin Salsa pingsan karena mencium aroma tubuh gue yang kayak walang sangit habis dibakar pake minyak tanah.

Baru aja gue mau matiin mobil.

KRIIINNGGGG!!!!

 Handphone Danu berbunyi, dan dia dengan cepat mengangkat telfon itu.

"Halooo, Naila? Iya aku udah sampe kok, kamu di mana? Baru aja turun dari taksi nih,  Habis itu kita cabut cari makan di Roxy. See you, lovely."

Oke, jadi selama ini gue hanya dianggap sebagai supir taksi.

"Edaaaannnn lo men, tadi manggil beb sekarang lovely. Semoga besok gak manggil Emak ya!"

"Sialan lo, gak Emak juga lah. Lagipula ini bukan orang yang tadi nelfon gue di mobil kok." Danu memberikan klarifikasi sambil menaruh handphonenya di dalam saku baju dia. Kemudian dia keluar dari mobil lalu bercermin di spion dekat pintu penumpang.

Gue mematikan mobil, lalu keluar dari mobil dan memasang muka bloon karena masih belum bisa mengerti apa yang Danu bicarakan.


"Sen, bingung banget muka lo? Itu tadi Layla, gebetan gue. Anak Smada Rumahnya dia di Sobo sini. Gue janjian sama dia. Makanya besok kalo kita ketemuan di Lapangan dan ada pacar gue lihat gue, jangan bilang-bilang ya. Soalnya gue lapornya sore ini ada Les di primagama."

Masih dengan tampang muka bloon, mungkin kalau ada cermin di depan gue. Gue bisa melihat sosok boboho yang sudah akil baligh dengan rambut klimis, kumis yang baru dicukur, mata sedikit melotot, mulut kembang kempis, dan ada cairan hijau lendir yang keluar dari bola mata. Sebelum gue terlalu jauh menjatuhkan standard wajah gue sendiri, gue pun mencoba untuk kepo.

"Dan jadi Laila itu bukan pacar lo? Kalo bukan, kok manggilnya lovely sih?"

 "Maaannnn!! Get a life! Masih muda tuh jangan terlalu stuck sama satu orang. Itu kenapa gue bilang sama lo tadi, kalo lo jangan terlalu datar sama cewek, lo harus bisa memanfaatkan potensi yang lo punya. Walaupun oke lah lo gak seganteng gue, tapi setidaknya lo itu anak basket, dan kamu pernah juara baca puisi. Harusnya sih bisa punya banyak cewek."

 "Hahahahaha bisa aja lo, Dan. Tapi gak ah, gue takut ngecewain Salsa."

"Yah, namanya juga baru Kenal kayak gini nih, anget-anget tai ayam. Tenang lo bakal menemukan celah di mana nanti lo bisa membagikan perhatian lo ke cewek lain selain Salsa." Dengan entengnya Danu berbicara seperti itu kepada gue di dekat mobil. Namun pernyataan terakhir dia sama sekali tidak gue jawab. Karena gue harus buru-buru ketemu sama Salsa di yang sudah kita sepakati.

 Gue dan Danu bergandengan tangan jalan bareng ke arah pintu masuk,  Setelah pintu masuk tersebut ada sebuah persimpangan jalan, di mana ke kiri untuk di outdoor, dan kanan untuk Di dalam. Di sana gue berpisah dengan Danu. Seperti anak basket lainnya, sebelum berpisah pasti kita melakukan tos ala anak basket. Tangan di kepal, lalu kita mempertemukan kepalan kita sambil bilang, "See you, bro."

"Yaudah salam buat Salsa ya. Gue jemput Laila dulu. Anyway, happy satnight my man!"

"Thank you, Dan, Oh iya, nanti gue salamin ke Salsa."

 Sebelum gue menuju ke salsa, gue sempat berfikir sejenak. Ternyata apa yang dikatakan Danu tentang sisi keromantisan gue tidak sepenuhnya bisa menjadi tolak ukur rasa sayang gue ke Salsa. Gue berkaca dengan apa yang gue alami saat itu, seorang Danu yang pandai sekali bermain kata-kata dengan seorang wanita, ternyata itu bukan jaminan kalau dia beneran sayang sama ceweknya.

 gue menunjukan kalau jalanya masih jauh, kemudian gue sedikit berbicara dengan diri gue sendiri. Apakah tingkat rasa sayang seseorang harus diukur dari cara dia berbicara? Bagi gue, tingkat rasa sayang seseorang itu tidak ada takaran yang bisa dilihat. Rasa sayang itu ibarat sebuah energi bagi gue, tidak bisa dilihat, namun bisa dirasakan. Bagi Danu, mungkin gue terlalu datar saat berbicara dengan Salsa, tapi bagi gue, itu adalah sebuah cara terbaik yang diungkapkan dari hati gue untuk seorang wanita yang gue sayang. Dan sejauh ini, gue bersyukur Salsa tidak pernah terlalu menuntut yang aneh-aneh dari diri gue.


"Beb, kayaknya aku gak bisa ketemuan deh. Tiba-tiba Temen gue ngasih Kabar nih. ada tugas Dikumpulin besok pagi di rumah guru gue kamu hati-hati ya pulangnya. I love you."

 Gue masih bisa mendengar suara Danu dari kejauhan, seiring dengan menghilangnya sosok Danu karena Gue terus berjalan ke salsa. Dia kembali berbohong pada cewek yang dia panggil dengan sebutan "beb." Sejujurnya gue sama sekali tidak setuju sama apa yang dilakukan oleh Danu. Mungkin bagi beberapa orang seperti dia, kalimat gombal atau pujian manis untuk orang lain merupakan hal yang sangat lumrah, tapi tidak bagi gue. Menurut gue, percuma ada seseorang yang pandai memikat hati orang lain dari sekedar omongan di mulut saja, tapi justru hatinya berkata sebaliknya.

 Sekarang gue dapat membuat kesimpulan, bahwa keromantisan seseorang tidak bisa diukur dari apa yang hanya keluar lewat kata-kata. Cobalah untuk merasakan sisi romantis itu dari perilaku yang diberikan untuk orang yang benar-benar dicintai. Datar atau tidak sebuah percakapan bukanlah menjadi persoalan yang penting. Melainkan ketulusan, kejujuran, memberi rasa nyaman, serta bisa memberi rasa percaya lah yang akan menjadi tolak ukur sebuah rasa sayang.


Akhirnya gue masuk kedalam, kemudian gue masuk untuk segera  bertemu dengan salsa. Gue berdiri sendirian pintu.

Kemudian gue sedikit berlari untuk menghampiri Salsa yang sudah menunggu gue.

"Ih lama banget deh, udah nungguin lama tauk!!!!"

"Sorry sorry, tadi Nabrak kucing euy dijalan. Yaudah yuk makan, maaf yaaaaaaa."
 "ya, gapapa kok Tadi aku cuma bercanda"
Dengan sebuah senyuman manis aku berkata , .. Hehehe, oh iya selamat ulang tahun ya, Sa, ini ada hadiah buat kamu."
Gue  memberikan Salsa sebuah kotak kecil, apapun itu isinya bukan masalah bagi Salsa. Yang terpenting saat ini adalah Salsa bisa mendapatkan sebuah kenyamanan dari seorang cowok,dan salsa  tidak terlalu menuntut macem-macem dari diri gue.

"Terima kasih ya, Salsa. Yaudah makan yuk, tenang kamu mau makan apa aja bebas, karena hari ini kan kamu ulang tahun."

"Asiikkkkkk."

"Tapi kamu bawa dompet kan?"

"Ih nyebelin!"

1 komentar: